Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2016

Manusia Praktis

Sumber Gambar: Google
Perkenalkan namanya Darmo, orang terkaya di kota sekaligus di negeri ini. Ia seorang pria muda pencipta alat-alat canggih. Bisa dibilang kami cukup akrab. Bukan karena kami satu sekolah dulu dari SD-SMA. Bukan juga karena kami dulu satu PTN sekaligus Fakultas yang sama. Bukan pula karena kemarin lusa sampai sekarang kami satu gedung kantor. Bukan juga pula karena kami tetanggaan, bahkan rumahnya di samping kiri rumahku. Entah, semua itu terjadi begitu saja.
Di negara yang memang sudah maju banget ini, kata praktis terlampau berhambur dimana-mana. Berseliweran kanan dan kiri mencari pelanggan, atau bisa juga di bilang korban ke-praktisan. Yah memang, praktis itu bisa bikin hidup lebih efisien waktu. Tidak butuh waktu lama, jadi bisa melakukan hal poli dengan cepat pula. Sesuatu itulah yang dapat ku simpulkan, merupakan bahan pupuk dari tanaman kesuksesan Darmo. Sahabat masa kecilku.

Orangnya ramah. Amanah. Perhatian. Suka berbagi. Murah senyum. Adil. Tidak pandang bulu. Tidak sombong dan pastinya suka menabung. Ah, pokoknya baik. Namun satu kata itulah yang benar-benar menjangkiti orang super-duper baik itu. Praktis. Hidupnya serba praktis. Mau ini-itu, pilihnya praktis. Beli ini-itu, tak perlu lihat barang, yang penting praktis. Jalan sini-jalan situ, maunya kendaraan praktis. Baju kaos-baju kemeja, pilihannya praktis;kaos berkerah. Tetapi sahabat praktisku ini memberikan pelajaran yang sangat berharga. Meski dia yang ku jadikan materi pelajaran itu.
Tampaknya seru bila kuceritakan tabiat harian kolega praktisku itu.

Subuh hari.

Darmo orangnya suka beribadah. Ia bangun tepat jam 04.55. Bangun sendiri. Belum beristri. Katanya kalau sudah punya istri bikin repot, banyak waktu yang terbuang cuma untuk dengar celoteh ringan wanita. Kalian tahu kan wanita? Memang demikian tabiatnya. Lantas mengapa? Hal itulah yang membuat seorang perempuan bertambah anggun. Apalagi kalau tujuannya untuk menghibur suami. Ah, jadi ingat dengan istriku di surga sana. Aduh kenapa malah menjalar ceritanya. Oke-oke.
Setelah bangun, ia bergegas berjalan dua langkah menuju toilet, berwudhu. Dua langkah? Yah. Ia sengaja menempatkan ranjang persis dua langkah dari WC. Katanya praktis, biar tidak buang tenaga dan waktu. Persis tiga menit ia selesai berwudhu. Kok cepat banget? Sesudah itu ia memasang sarung. Bukan sarung sebenarnya, tapi celana sarung. Bentuknya seperti sarung, namun pakainya seperti pakai celana. Praktis banget kan? Ia sholat di rumah, tidak ke masjid. Padahal masjid komplek kami berada betul satu rumah dari rumahnya, samping kanan rumahku. Yah, sekali lagi biar praktis.

Pagi hari.

Selesai sholat. Ia segera mandi dalan kurun waktu lima menit. Hanya beda dua menit ketika berwudhu. Hah? Beneran mandi itu? Bahkan sampai di kantor, sabun muka masih melekat tebal di dagu atau pelipisnya. Aku menegurnya berkali-kali, ia hanya nyengir, lantas mengambil tisu mengelapnya.

Di mejanya sudah tersedia makanan cepat saji, entah itu gorengan, ayam KFC, PizzaHut, McDonald dan lain sebagainya. Ia memesannya tadi dalam perjalanan. Nah di perjalanan itulah tingkahnya sangat ekstrim. Di negara yang terpatri dalam peringkat ke-empat se-dunia sebagai negara terpadat, merupakan hal biasa bila jalanan macet berlebih. Sebagai orang terkaya, mengalahkan presiden serta pejabat-pejabat lain. Mudah bagi dia membeli helikopter beserta membangun tapak tilasnya. Tepat di atas rumahnya yang sengaja dibuat datar, terdapat helikopter biru bergaris merah (ia menyuruh orang untuk mengecatnya). Juga di atas kantor terdapat landasan darat itu. Butuh biaya berapa itu? Darmo tak peduli, yang penting praktiskan? Ah! Praktisnya, ia lebih suka praktis daripada uang.

Terus siapa yang mengemudi heli itu? Mana mungkin dia. Tentu ia mempunyai sopir pribadi. Seorang mantan prajurit perang Amerika. Ia rela pensiun demi menjadi pengendara pribadi untuk bosnya Darmo dengan gaji yang amat menjulang. Nah, saat perjalanan di situlah Darmo mulai melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Sebagai professor muda yang berbakat, ia punya koneksi langsung dengan komputer kerjanya melalui iPhone. Bukan masalah yang rumit.

Sesampainya di tempat landasan, ia segera trun. Sepatu kantor tiba-tiba saja berubah jadi sepatu roda. Dilengkapi dengan remote control. Ia cukup mengkombinasikan pencetan tombol agar sepatu berjalan gesit. Sesampai di ujung tangga, gesit pula roda sepatu itu berganti pegas elastis. Satu lompatan sudah cukup untuk sampai di ujung tangga. Di ujung tangga dengan perintah remote tadi, seketika sepatu roda itu menjelma sepatu kantor kembali. Sungguh alat yang canggih. Dan satu hal, ia tidak pernah mau mempublikasikan alat super-duper canggih itu. Privasi unggulnya, hanya ia yang boleh jadi manusia praktis.

Di kantor sampai malam.

Ia mulai bekerja pagi hari dengan mulut mencomot makanan praktis itu. Jarinya mulai mengetik sesuatu di laptop canggihnya. Di situlah ia mulai benar-benar sibuk. Matanya tak pernah berkhianat, fokus terus. Bahkan telinganya sengaja di berikan penutup telinga anti suara. Gelombang suara gempa bumi pun tak dapat terdengar. Banyak sekali yang harus ia urus melalui layar datar itu. Banyak sekali hubungan-hubungan kerjanya. Seluruh kota besar di Indonesia tampaknya tak boleh lepas dari orang bertubuh pendek itu. Bisa runtuh segala perekonomian kota-kota itu. Ia selesai bekerja tepat jam delapan malam.

Saat pulang.

Saat pulang inilah ia berani mengorbankan waktunya sepersekian seperempat setengah jam. Ia senang aku ajak bicara sambil berjalan naik menuju tapak tilas helikopter. Setiap pulang kerja aku selalu nebeng heli-nya. Dia yang memaksaku. Yah aku menurut saja. Di heli itu aku merasakan sebagian kecil dari kehidupan praktisnya. Tapi aku tak doyan. Lebih baik hidup sederhana seperti manusia pada umumnya.

Pada waktu ajaib itulah aku selalu menasehatinya tentang kehidupan praktisnya.

“Ah Bung. Sepertinya tidak baik kalau kau hidup dalam gelimang praktis terus. Cobalah untuk hidup seperti saudara-saudaramu yang lain. Atau minimal sepertiku.” Tegurku suatu saat dalam suara masih kecil. Ia tak bergeming. Suaraku sepadan dengan deru baling-baling helikopter. Aku mengulanginya lagi, lebih keras, dan lebih keras lagi melebihi cepatnya gelombang transversal baling heli itu. Ia mendengar, lantas menangguk tersenyum siput.

“Tak apa kawan. Aku ingat betul pesan ayahku dulu. Kalau ingin sukses, yah tidak boleh lambat-lambat. Lagi pula aku senang dengan hidupku ini. Buat apa coba meninggalkan hidup yang sudah disenangi?” ia berkata pasti. Merasa sangat bangga dengan hidupnya. Sekali lagi aku memakluminya.
Tiba di landasan atap rumah, aku bergegas turun. Tidak mengajaknya mengobrol kecil sekadar pamit. Aku tahu ia sudah tertidur pulas di sampingku. Ia sudah memberi pesan pada Smith (nama pengendara heli itu) untuk memencet tombol merah pada kursi duduk Darmo. Kursi itu juga ciptaannya. Setelah dipencet, kursi itu bakal bekerja seperti robot. Membawa tubuh Darmo yang sudah pulas ke ranjangnya, entah bagaimana caranya. Untuk kesekian kalinya, ia seorang pencipta alat canggih untuk pribadi.

Begitulah hidupnya berulang-terus menerus. Tak ada bersantai, tak ada main bola, tak ada bercengkrama tak berguna, tak ada kesempatan mencari pendamping. Lah bagaimana bisa menikah? Entah. Kadang aku berfikir begitu bosannya hidup seperti dia. Ah, tampaknya aku dan kalian harus bersyukur dengan hidup yang sederhana. Tergantung dari kalian membuat hidup sederhana itu menyenangkan.

***

Kesimpulan mencengangkan; ternyata praktis dapat pula mem-praktiskan hidup seseorang. Cepat tepat mengirim undangan pada malaikat maut.

Selama seminggu ia sakit berat. Ototnya lemah, tak pernah digunakan untuk olahraga. Usus dan lambungnya menghitam ulah makanan cepat saji. Bahkan lambungnya robek. Makanan yang masuk keluar begitu saja melalui robekan itu, menghantam organ-organ dalam yang lain. Mengerikan. Terjadi pembengkakan pada telinga bagian dalam, terkontaminasi oleh earphone anti suara itu. Wajahnya bengkak-bengkak, bekas garukan karena gatal akibat sabun muka yang saban hari menempel tebal. Membuat kulitnya iritasi. Bagitu menyedihkan melihatnya sewaktu menjenguk.

“Adhim.... aku baru tahu sekarang” Darmo terbatuk, amat pedih terdengar, “kamu benar Dhim, kamu benar, amat benar” ia menangis sedan, menyesal atas segala perangainya selama ini.

“Sudahlah Mo, sudah terlanjur. Lebih baik kamu banyak berdoa untuk kesembuhanmu. Kan rencananya kamu ingin melamar Sarah” aku berkata menyemangati, menepuk pelan bahunya, berharap ia dapat tegar. Sarah adalah wanita yang ingin dia lamar, tak sengaja mereka bertemu via e-mail. Melihat foto online Sarah, Darmo jadi terpikat. Ia berusaha menjadi pria yang tidak praktis lagi. Tapi sudah terlambat. Badannya keburu memburuk, di remukkan belenggu-belenggu ke-praktisan. Menyedihkan.

“Itulah masalahnya kawan, sangat susah untuk memperoleh kata sembuh untukku. Kamu sudah lihatkan hasil pengamatan kesehatanku? Hampir semua organ dalamku rusak. Bisa dibilang persen untukku hidup hanya 20%” ia mengeluh dalam, membuat lubang menganga lebar yang siap menerima dan mengubur harapan-harapan akan Sarah. Mataku ikut berkaca.

“Jangan begitu, kamu tidak boleh ngomong seperti itu” mataku semakin panas. Kaca di mataku mulai ingin meleleh.

“Dhim, aku minta tolong” ia terdiam, menelan ludah yang amat pahit, “Kamu orang yang baik, maka itulah aku mohon, hok-hok!” ia batuk kembali.

“Apa Mo?” kaca itu mulai meleleh, meluruhkan bening-bening air mata.

“Nasihatkan kepada seluruh orang kamu sayangi untuk tidak sepertiku, dan....” ia berhenti, “dan... dan kalau kamu bisa” ia terdiam lagi, “kalau kamu bisa.... nikahi Sarah” Darmo melanjutkan, menyematkan tanda tanya besar dalam hatiku.


Kamis, 19 Mei 2016

Cerpen: Guardianteli (Pesan Jaga Pohon)

Google
Dunia benar-benar kacau selama dua puluh tahun terakhir ini. Jika dilihat dari Planet Mars maka tak ada lagi sepetak hijau yang melekat. Biru menguasai Bumi. Dua puluh tahun silam es mencair serentak, Kutub Utara dan Kutub Selatan berkolerasi, air laut pasang, menenggelamkan daratan, hanya tersisa secerca hijau yang masih pula menyisakan kehidupan bagiku dan penduduk Bumi lain yang masih bertahan.
Di Bumi sekarang ini terbagi tiga golongan besar manusia. Manusia pelindung, perusak dan manusia tak acuh yang hanya menggantungkan hidup pada nasib. Apa yang kami lindungi, rusaki atau bahkan ditak acuhkan saja? Adalah secerca hijua itu, pohon Tree Of Life. Aku adalah kaum pelindung pohon agung itu.
Bersama dengan kawanku sesama pelindung, kami tinggal tepat melingkari pulau yang disinggah akari oleh Tree Of Life, Pohon Kehidupan. Rumah-rumah sekarang kurang lebih dapat disebut ‘Rumah Perahu’ karena mengapung dengan anggun di lautan luas. Tanah subur benar-benar raib, tak ada tempat untuk mematoki tiang pusar rumah. Sekarang malah lautan menjadi tak beraturan karena ulah perusak dan penduduk tak acuh yang hanya mementingkan kehidupan pribadi.
Tree Of Life adalah satu-satunya penghasil oksigen di muka Bumi ini. Khusus dipersembahkan untuk kami para warga Bumi. Benar-benar Pohon yang telah diberkahi oleh Tuhan. Tapi entah mengapa Si Perusak itu malah ingin menghancurkan sumber esensial itu, bukannya mereka juga akan mati nantinya jika pohon itu tumbang tak menghasilkan oksigen? Entah dimana mereka menyimpan otak.
Tapi semua itu tak apa, aku bangga dengan gelarku yang selalu disebut bersama namaku, Guardianteli. Singkatan dari Guardian Of ‘Tree Of Life’, Penjaga Pohon Kehidupan. Sedang namaku sendiri berasal dari bahasa Arab, kata dasar Ard berarti Bumi. Jadi kurang lebih sempurna namaku bermakna Bumi Penjaga Pohon Kehidupan. Bumi sendirilah yang harusnya melindungi semua pohon-pohon hijau terdahulu, namun manusia lebih rakus lagi menghancurkan Bumi. Sekarang tinggalah aku Si Bumi kedua, Ardan Guardianteli.
***
Tugas kami para Guardianteli adalah menjaga Tree Of Life dengan rapi. Tak pernah boleh terjadi pertempuran di pulau kecil itu. Satu daun muda yang jatuh, maka menghilangkan satu hektare oksigen di bumi. Maka jika kaum Perusak menyerang, maka kami harus memancing mereka menjauh dari pohon. Pertempuran kami lakukan di bawah laut. Kehancuran Bumi membuat kami berevolusi dapat bernapas lebih lama dalam air.
            Dua hari kedepan adalah hari yang kami damba, adalah hari dimana Bumi telah mengalami 21 tahun dalam fase kerusakan fatal. Saat itulah bibit Tree Of Life yang pertama akan tumbuh, membawa harum semerbak serta harapan yang menumpuk. Bibit itu kemudian akan kami jatuhkan tepat pada titik khatulistiwa, dan akan tumbuh menjadi pulau yang baru bersama Tree Of Life yang kedua. Jadilah Bumi ini akan mendapat mahkota kedua. Begitulah yang akan terus diwarisi generasi kami, menunggu selama 21 tahun untuk memperoleh bibit baru, sampai bumi dipenuhi hijau kembali, benar-benar perjuangan.
            “Hei! Itu kaum Perusak!” Ramiro berteriak keras, membuyarkan hayalanku tentang dua hari kedepan. Ia menunjuk sebelah timur samudra, terlihat buram mereka melaju kencang dengan perahu inovasi kami yang telah mereka curi. Semakin terlihat jelas wujud mereka, tiga perahu besar. Dua perahu berbendera merah, dan satunya lagi... apa maksud Kaum Tak Acuh berbendera putih itu?
Tanpa pikir panjang, tangan kami sudah mencekal papan kayu, tombak, parang, panah, bahkan pistol bawah air yang siap menembus hati sempit mereka. Beberapa kawan lain juga sudah membimbing perahu untuk berlayar. Dengan gagah, Mento mengibarkan kain hijau. Kami siap bertugas.
Deburan ombak menjawab semangat kami, suara mesin ramah lingkungan terdengar ramah, namun tak seramah ketika bertempur melindungi pusat kehidupan yang mulai sekarat. Kami harus cepat, jarak kami dari pulau inti harus sekitar satu kilometer, tak boleh satupun bahan kimia yang boleh mencolek Tree Of Life. Rentan sekali.
Pertempuran sengit terjadi begitu saja, tanpa naskah ataupun latihan. Segera kuceburkan diriku ke dalam air, sementara yang lain bertahan beberapa menit untuk menghalau serangan, kemudian menyusul selam. Belum satu menit terbelenggu air, kaum perusak juga menyeruak permukaan air. Mereka mulai menembaki kami dengan peluru timah yang asal saja, karang-karang berhamburan, ikan-ikan melarikan diri mencari tempat lindung, benar-benar menjengkelkan mereka. Daratan sudah hancur, apa mereka juga hendak membinasakan laut? Mataku berapi, serasa hawa laut memanas. Kugerakkan kakiku dengan cepat arah vertikal, aku menjemput peluru mereka, meliuk bagai duyung, menghindar, tangan kanan memegang tombak, kuhempas tongkat mata runcing dengan beringas, tepat mengenai perut Marvent, putra Ketua Kaum Perusak.
“Bagus Guardianteli! Lakukan terus! Masih banyak dari mereka” Kapten Terre berteriak menyemangati, sudah jatuh tujuh musuh. Benar-benar sukses pertempuran kali ini. Betapa tidak, sisa dua hari lagi puncak kehidupan akan bertambah tinggi. Bibit Tree Of Life. Tak akan kami biarkan harapan itu hancur. Semakin ganas kami menyerbu, peluru-peluru mereka ditembak ganas pula, namun kami lebih terlatih, liak sana-liuk sini, mudah kami menghindar, lantas bila target sudah mengempuk, segera kami tikam, tembak atau sekadar memukul.
“Kau sudah tak bisa apa-apa lagi Tuan Perusak” ancam Kapten Terre pada Ibil, ketua Kaum Perusak. Ibil tak takut, malah sekarang tersenyum sinis di atas perahu. Ia tertawa bahak, sangat gembira terdengar.
“Dimana urat rasa kalian? Tak merasakan napas kalian tersenggal sekarang?” ia menyembur pertanyaan aneh, meski memang napas kami susah terkontrol, “Dan juga tak sadar dengan raibnya kapal Kaum Tak Acuh?” ia melanjutkan.
Kami seperti tersetrum, baru menyadari keganjilan yang kami hiraukan. Kemana gerangan kapal bendera putih itu? Lalu mengapa napas kami terengah-engah seperti ini? Entah, Ibil benar-benar menanam pohon tanya pada kami.
“Tree Of  Life kalian akan binasa!” Ibil bersuara tiba-tiba, segera membuncahkan rasa takut.
“Tidak mungkin!” teriak Kapten.
“Dasar bodoh, kalian pikir buat apa kami menyerang tembak saja tidak menombak atau minimal berenang ke arah kalian untuk memukul?” Ia diam, menunggu reaksi, “Kami mengulur waktu kalian. Sekarang Kaum Tak acuh dungu itu mungkin sudah setengah kerja, menyisakan setengah diameter batang Tree Of  Life. Tinggal beberapa menit lagi pohon itu akan tumbang menghanguskan oksigen kalian.”
“Ah! Diam kau!” teriakku sambil membidik jantungnya, tombakku telak menembus jantungnya. Aku tersenyum jemawa melihatnya kesakitan memegang tombak yang sudah tertancap. Namun bukan darah yang mengalir keluar, kepulan asab yang bermunculan. Ia kembali tertawa, tertawa yang menjengkelkan. Dengan mudah ia menarik tombak, membuat kepulan asap bertambah pekat. Sedetik asap hilang menyisakan dada kiri yang masih utuh, hanya baju yang sobek. Kami terperangah, sihir macam apa yang dianut Ibil ini?
“Sudah kuduga sejak lama, kau adalah Iblis terkutuk!” Kapten Terre berucap pasti. Yang diteriaki memasang wajah bangga.
“Maksud Kapten?” aku memecah balon tanya. Kapten Terre tak menjawab, tetap menatap marah Ibil yang dianggapnya Iblis.
“Tak ada waktu para Pelindung! Segera kembali ke pusat Tree Of Life! Tak ada gunanya mengurusi Iblis bertubuh manusia itu” Kapten segera berbalik badan mengunyah daun kering Pohon Kehidupan. Itu pertanda kondisi darurat. Daun  kering itu sangat langka, hanya jatuh setiap satu tahun sekali dan hanya boleh digunakan pada keadaan terpaksa. Kami ikut mengunyah daun kering. Segera badan kami dipenuhi stamina. Kupijakkn kakiku pada permukaan air, lantas tanganku cepat ku ayun ke belakang seperti hendak berlari. Maka melesatlah tubuhku seperti mengendarai ski air. Begitulah salah satu kekuatan daun kering itu, membuat kami dapat berjalan dan melesat cepat di atas air.
“Sebenarnya apa yang  terjadi Kapten?” aku berhasil menyamakan posisi dengan Kapten Terre.
“Kau tau Ardan? Sudah sejak lama aku menduga kedok Ibil itu. Tidak mungkin manusia berakal ingin menghancurkan Pohon yang menyediakan mereka oksigen,” Kapten terdiam sejenak,” karena Ibil bukan manusia, dia Raja Iblis Khatulistiwa. Raja dari segala raja Iblis di dunia paceklik. Selama hidup ia terus meracuni pikiran manusia, terutama manusia Tak Acuh. Sebenarnya dulu tidak ada golongan penghancur, namun berkat ulah Ibil beserta bala tentaranya ia mencipta partai baru, Kaum Penghancur. Kaum itu adalah himpunan manusia tak acuh yang sudah menghitam hatinya, tak menyisakan titik putih karena racun goda yang sudah berlumur.”
“Lalu mengapa Ibil tidak menggoda kita saja?” aku mendaftar pertanyaan kedua.
“Karena kita adalah Guardianteli, kaum yang dekat dengan Pohon Suci yang diberkahi. Ibil tak dapat meracuni kita atau bahkan untuk sekadar meneteskan racun itu, tubuh kita otomatis melindungi. Kau pasti tidak pernah melihat Ibil mendekati kita dengan jarak satu meter bukan? Karena ia akan merasa panas bila berada lebih dekat dengan para Pelindung, bila kau memeluknya maka seutuh tubuhnya akan terbakar. Dan kau bisa lihat sediri, saat kita berbalik ia tidak mengerjar ” aku tekesiap, memang Ibil tak mengejar, bahkan malah lenyap bersama asap hitam.
“Tak ada gunanya memikirkan Iblis itu. Segera percepat diri, dunia sudah diambang mati” Kapten menyudahi percakapan.
            Aku mengerti, kukencangkan lagi lajuku. Disana sudah terlihat Tree Of Life, tampak bergoyang-goyang daun rimbunnya. Aku tak dapat membayangkan kemungkinan terburuk. Manusia dapat seketika musnah begitu Pohon itu jatuh. Sepersekian menit kami tiba di pesisir pulau. Kaum Tak acuh menggerakkan kiri-kanan sebuah logam datar, mereka menggergaji batang Tree Of Life.
“Hentikan kaum bodoh!” Aku sudah berteriak lebih dulu, benar-benar membara amarahku. Namun mereka malah tak acuh denganku. Ah, benar-benar kaum tak berguna. Kapten Terre tak memperhatikan kejengkelanku, lantas turun lebih dulu menapaki tanah, segera mencekal batang tubuh mereka. Orang-orang berkulit abu-abu itu membalas dengan memutar badan dengan lincah, tampaknya mereka sudah dilatih lebih dahulu sebelum beraksi. Genggaman tangan Terre terlepas. Belum sempat mengembalikan posisi tubuh, Terre ditendang kencang kebelakang.
Hal tersebut membuat kami geram. Aku dan yang lain sudah mengangkat tombak, mengincar jantung mereka. Tombak terhempas. Sia-sia, mereka menghindar. Aduhai, obat apa yang dirasukkan dalam diri mereka. Sekarang mereka malah memungut tombak kami, lantas membelah udara dengan batang tembaga itu. Bahuku tergores, perih. Sementara Nidri, putri perkasa Kapten Terre tertusuk tepat di perutnya. Darah mengucur sudah, hatiku kian sesak.
Kaki kami terus melaju, mendekati Kaum Tak Acuh. Tak ada senjata, tak apa. Gunakan apa yang ada, walau itu hanya sengenggam udara. Perang tak dapat dibendung. Kali ini bukan pertempuran bawah laut. Baru pertama kalinya bumi ini mendapati pertempuran darat setelah hampir 21 tahun mengalami kehancuran. Benar-benar hari ini menjadi penentu.
Benar-benar tak ada harapan lagi jika Tree Of Life musnah. Teriakan-teriakan dan bunyi benturan tangan menyertai perjuangan kami. Tak kami biarkan penungguan kami sia-sia begitu saja. Aku mulai tahu teknik kelahi mereka. Baik, akan kugunakan cara ini. Kuberikan kode kepada yang lain, bahasa telepati Kaum Pelindung. Mereka mengerti. Kami membiarkan mereka terus menuruti hasrat memukul. Gesit kami menghindar, seperti kadal pohon yang tetap lincah kendati pijakan pohon tiada. Lalu jika tangan kulit abu-abu itu mendekati samping telinga, segera muncul sifat ganas kami, menggigit tangan mereka, menyebarkan liur racun hasil kunyahan daun kering Pohon Kehidupan.
Mereka memundurkan langkah, mengenggam lengan mereka. Sudah terlambat, mereka akan binasa. Mereka berlutut, merunduk, seolah memeluk sakit.
“Jangan percaya Guardianteli!,” Kapten Terre berteriak tiba-tiba, sembari menghindar dari pukulan musuh lain, “itu kamuflase, mereka menjalarkan racun dari dalam tanah. Cepat ludahi tanah di sekitar kalian” Kapten memerintah. Kami mengikut saja. Terciptalah asap hitam ketika kami meludahi hamparan tanah sekitar, hampir kami mati perlahan. Itu adalah racun pamungkas Kaum Tak Acuh. Mereka dapat mengalirkan racun ke beberapa medium. Lantas mengapa racun kami tak mempan?
Belum sempat kami meretas tanya, Kaum Tak Acuh mulai menyemprotkan serbuk ungu. Racun kedua dengan medium udara. Benar-benar, Pohon Kehidupan akan bertambah sakit dengan semua bahan kimia ini. Kami hanya dapat menahan napas, dan tak henti terus melakukan penyerangan. Kami maju, namun bertarung dengan napas yang tertahan dan terengah membuat kami kewalahan. Uronas yang begitu semangat kini tumbang, serbuk itu berhasil menggerogoti pernapasannya. Satu demi satu para Pelindung jatuh merangkul harapan besar, selamatkan bumi ini.
Aku sudah tak tahan, aku mulai terbatuk lantas dijatuhi tendangan dari salah seorang musuh. Terlemparlah tubuhku. Apakah sekarang adalah giliranku? Kapten Terre tiba-tiba saja mencium kepalaku, aku tahu itu. Adalah penyaluran beberapa usia hidup. Darahku mulai menormal, suhu tubuhku mulai seimbang, dan tentu gerakanku akan lebih gesit lagi. Aku menatap Kapten Terre.
“Kenapa kau melakukannya Kapten?” kukirim telepatiku.
“Karena sesuatu hal besar ada pada dirimu” Kapten Terre tersenyum menjawab. Ia kemudian menghirup seluruh serbuk ungu itu. Kembali bening udara. Ia bejalan tersuruk mendekati Tree Of Life. Dapat kulihat jelas wajahnya. Wajah yang menampung beban yang teramat sakit. Cairan bening mengalir dari ceruk matanya. Tidak pernah ada sejarahnya Kapten Terre menangis. Kapten yang berambut hitam diselingi putih tersebut mulai membentangkan tangan, seolah memasrahkan diri. Jelas, Kaum Tak Acuh seketika berhasrat menyerang. Mereka memajukan ujung tombak dengan beringas pada tubuh Kapten, aku dan yang lain berusaha berdiri, hendak membantu, namun entah tubuh kami seperti membeku.
Tertusuk sudah tubuh Pemimpin kami, ujung-ujung tombak tampak menyembul dari tubuhnya. Aku menatap bisu, mulutku menganga kaku. Pemimpin kami dibunuh dengan ganas. Tapi kapten tak mengubah posisi, tetap membentangkan tangan. Sedetik-semenit kami dapat merasakan sakit Kapten Terre, sakit hati jikalau kehilangan satu-satunya pohon dan tentu sakit tertusuk tiga tombak dari tiga arah. Di tengah terjangan sakit, Kapten masih sempat menengok kami sambil menyemburatkan senyum simpul. Aku tak sanggup melihatnya. Lihatlah Kapten seperti pendosa yang dihukum mati.
Entah, tiba-tiba saja cahaya seperti terbit di tubuh Kapten Terre, begitupula dengan Tree Of Life. Kaum Tak Acuh mengaduh kesakitan, teramat sakit terdengar. Sebentar sekali peristiwa itu. Tubuh anggotan Kaum Tak Acuh seperti raib, tidak menyisakan bekas. Lantas cahaya itu gegas menyebar memenuhi seluruh jarak pandang kami. Silau namun menenangkan jiwa. Aku mendapat telepati, jenis telepati yang amat langka.
“Kau tahu nak, tidak sedemikian rupa aku menyalurkan setengah umurku padamu. Demikian bukan hanya usia dan energi  yang tersalur, namun sekaligus darah pemimpin baru. Seharusnya pergantian pemimpin terjadi setelah munculnya benih. Tak akan ada anggota dari kaum kita yang akan dapat memimpin sebelum bibit pertama muncul. Namun ini semua di luar rencana. Dan aku melihat hal yang lebih besar darimu daripada kawanmu yang lain bahkan diriku sendiri. Maka kuberi kau darah pemimpinku, hal besar darimu itu sudah cukup untuk membantumu memimpin, maka kupilihlah dirimu wahai Ardan. Orang tua ini harus menghilangi, TAPI TETAP DI SINI.”
Habis telepati itu, cahaya menyusut cepat pada satu inti titik ditengah pulau, lantas dengan cepat kembali menyemburkan butir-butir cahaya yang indah. Membawa kedamaian dan ketenangan. Mataku basah haru, lihatlah di pusat pulau! Tree Of Life tetap menegak dengan gergaji besar dan tombak yang berserakan di sekitarnya. Tak habis pikir diriku, perjuangan kami tidak sia-sia. Kawan lain segera menghambur saling peluk, mengacak rambut sebagai tanda kegembiraan. Tak terkecuali diriku, Mento dan Ramero melepas gembira. Kuacak keras rambut ikal Mento. Kami bersuka ria.
Di balik itu semua, keanehan masih menggantung. Kaum Tak Acuh tak menyisakan jejak walau sebatas bau amis mereka. Begitupulah Kapten Terre. Aku masih rabun fakta, apa maksudnya ‘orang tua ini harus menghilangi, tapi tetap di sini.’ Apakah Kapten Terre menjelma bagian Tree Of Life yang  hilang karena digesek logam raksasa? Terkaanku benar-benar luar akal.
“Kau sudah dapat telepati Ardan?” tanya Romero yang memperbaiki rambut panjangnya, telah dililit kayu kecil oleh Mento.
“Yah, dan sepertinya kalian juga,” aku menarik napas, “Ro, aku ingin meyakini bahwa bagian Tree Of Life yang digergaji itu benar-benar adalah tubuh dan nyawa Kapten,” lanjutku. Tampak wajah Remero memaklumi.
“Tak apa kau menerka. Yang terpenting kau yakin bahwa tentu kapten akan melakukan sesuatu yang bijak. Termasuk mengangkatmu sebagai penggantinya” Romero mulai meletakkan genggaman tangan kanan di dada kiri dan tangan kirinya memeluk perut secara bersamaan. Penghormatana khas Kaum Pelindung. Kawan lain mengikut. Suasana seorang pemimpin menyergapku. Aku akan memimpin para Guardianteli dalam penangguhan bibit pertama. Kami harus menunggu 21 tahun lagi.
Kaki senja mulai menapaki Bumi, kami mengelilingi Tree Of Life. Kami berikrar akan benar-benar melindungi Pohon Kehidupan beserta nyawa Kapten Terre didalamnya. Sore itu kami dikungkung haru. Harapan baru mulai menyala, kami rajut semangat. Duhai waktu, jalankan cepat 21 tahunmu.


Kamis, 14 April 2016

Langit dan Laut

Sumber foto: http://kokoroku.com/wp-content/uploads/2015/04/kiryu.jpg

Mobilku melaju sudah meninggalkan rumah mewah dan saudaraku yang masih tegak berdiri dengan wajah bersimbah air mata. Tangannya masih mengepal. Ia menatapku setengah marah setengah kecewa. Aku tak peduli, dia yang bodoh. Buat apa kemewahan kalau tidak dinikmati? Lebih baik menikmati segala usaha kita sendiri, tanpa bantuan dari-, ah! Jengkel aku mengingat orang tuaku.
Diperjalanan aku berbincang mesra dengan Pramita. Dia sangat pandai membuatku damai dari permasalah keluargaku yang cukup rumit, ah bukan. Bukan masalah keluarga, lebih tepatnya masalah persaudaraan. Samad sangat protectif padaku.
Beberapa menit di perjalanan, ada sekumpulan motor dan penunggangya yang menghalangi di depan. Aku terperangah, mau apa geng motor itu? Aku menatap Pramita di sampingku, barangkali ia ketakutan. Tapi, lihatlah! dia tersenyum sinis, lantas menatapku tajam, ia tiba-tiba menjadi bukan seperti Pramita yang ku kenal. Ia membuka pintu mobil. Aku melarangnya, siapa tahu ia diapakan oleh bajingan di depan. Ia tidak peduli.
Aku benar-benar heran. Tak ada satu orang pun dari pria berotot itu yang mengenduskan napas seram padanya, atau minimal memunculkan wajah bengis. Mereka malah tersenyum pada Pramita lantas memanggilnya bos lalu tertawa bahak bersama.
Ya ampun. Saudaraku benar tentang teman wanitaku ini. Percuma aku menyesal, pria-pria berotot itu sudah mengangkat semua senjatanya, beranjak berjalan menuju mobilku. Pikiranku menyisakan satu pilihan, kabur. Tapi bagaimana bisa? Ah, kalau mereka ingin membunuhku, mengapa tak ku bunuh juga mereka semua? Aku menancap gas, siap melaju kencang menabrak mereka semua.
Braak!!!
Tertabrak beberapa anggota geng motor itu bersama motornya. Cukup susah menembus motor-motor gede itu, beruntung mobil yang kumiliki adalah kelas atas. Hantam habis saja apa yang ada di depan. Mereka mulai mengejar di belakang. Aku benar-benar kualat pada Ayah, Ibu dan saudaraku. Tak ragu lagi aku mengucap hal yang lebih spepsifik dari orang tua, Ayah-Ibu. Aku benar-benar bingung. Mungkin ini adalah ujung hidupku. Dan aku harap mereka ada di depanku, agar aku dapat meminta maaf.
Tepat saat kebingungan dan kekhawatiran mulai merasukiku. Terdengar suara tembakan, aku terka itu dari mereka. Tapi bukan, malah mereka yang terjatuh bersimbah darah. Aku semakin takut, namun tetap ku laju mobil canggihku. Perlahan mobilku semakin menjauh, dan aku mulai tak mendengarkan deru suara motor. Aku menengok kaca spion, ternyata benar, tak ada lagi yang membuntutiku. Aku mulai bernapas lega, namun seseorang tiba-tiba berbicara di  belakangku, sambil meletakkan pistol di leherku.
“Kau tak melihatku masuk yah saudara Bahrain Ardan?” ia berbisik di telingaku, menyeramkan sekali.
“Apa maumu bajingan?! Katakan dan lepaskan aku! Akan kuberikan semua hartaku jika kau mau” aku mulai menawarkan. Tapi aku tak yakin, raut dari wajahnya yang ku lihat dari cermin depan mobil tak menggambarkan hal yang seperti itu.
“Aku tak butuh uangmu. Aku hanya butuh mayatmu. Maukah kau menjadi mayat untukku?” ia mulai mengancam, semakin sadis terdengar. Detik yang sangat mengerikan, ia mulai menarik pedal pistolnya. Kosong. Beruntung pelurunya habis. Segera ku hentikan mobilku, memutar lengannya yang sedari tadi merangkul leherku, lantas keluar berlari menuju hutan yang cukup lebat. Tentu ia mengejarku, entah mengapa ia sangat berhasrat untuk membunuhku.
Dorr!!!
Ia menembak setelah mengisi peluru. Dia terburu-buru mendesingkan peluru, sangat takut aku berhasil kabur dari maut yang sudah ia rencanakan. Beruntung hanya lenganku yang terkena, setidaknya aku masih bisa berlari menjauh.
Aku mencapai pusat hutan pada dini hari yang sangat dingin. Lenganku masih sakit,teramat sakit. Namun sedikit terobati oleh dingin yang menusuk. Segera ku robek lengan bajuku lalu mengikat luka itu agar aku tak kehabisan darah. Aku sangat lelah, hingga tak sadar aku menjatuhkan diriku di bawah pohon besar. Siluet Ayah-Ibu entah mengapa tiba-tiba saja melesat di pelupuk mataku. Kemudian berlanjut dengan wajah saudaraku malam tadi, wajah yang sangat marah dan kecewa. Maafkan aku saudara. Aku terisak, benar-benar merasa bersalah. Gelap, tidur.
***
Lengan kananku terasa sakit, seperti dijerat oleh sesuatu. Lebih lagi lengan kiriku yang sudah tertanam peluru timah. Perutku juga, seperti ditekan dan ditarik ke belakang. Aku terbangun. Dan begitu kagetnya, tubuhku sudah terikat di pohon.
“Hahahaha, kau sudah bangun bocah ingusan” pria yang menyodongkan pistol tadi malam tertawa renyah. Aku menggeliat, ingin melepaskan diri.
“Hei! Rupanya kau sudah tak sabar menjemput kematian?”
“Sebenarnya kamu siapa? Dan apa maumu?” aku benar-benar bingung.
“Mau tau namaku? Tak penting. Yang terpenting sekarang adalah nikmati detik-detik terakhirmu. Karena setelah bir ini habis, maka maut akan segera menjemputmu. Hahaha!” ia kembali tertawa, kemudian meneguk kembali minuman khamr itu.
“Lantas apa alasanmu ingin membunuhku?”
“Ini sebenarnya dendam masa lalu anak tampan. Ini adalah dendam kesumat dari kakek kepada keluarga kalian. Aku dan Pramita hanya akan dapat mewarisi harta keluarga kami bila kami telah membalas dendam kakek kepada keturunan keluarga Ardan. Orang tua kalian sudah mati, dan itu tugas orang tua kami. Dan sekarang mereka mewariskan tugas membunuh kalian kepada kami” ia menjelaskan dengan penuh amarah. Kesalahan apa yang orang tuaku lakukan sehingga sampai melahirkan dendam sekronis itu? Dan bagaimana dengan saudaraku?
Hah? Tiba-tiba saja saudaraku berjalan dari belakang orang seram itu.
PAKKK!!!
Sepotong kayu tepat mengenai pundak orang asing itu. Tumbang sudah. Samad segera berlari ke arahku, aku dapat merasakan rasa takut kehilangan keluarga satu-satunya pada dia. Ia segera melepas ikatan yang sangat keras mengikat.
“Kau tak apa-apa Bahrain?” ia segera menghambur memelukku. Pundakku terasa hangat dijatuhi tetes air mata. Mataku juga mulai memanas, merasakan sedih yang sama, ketakutan kehilangan keluarga lagi.
“Ayo-ayo. Kita segera pergi” ia menatapku sangat takzim, aku membalas menatap matanya yang sangat persis denganku. Ia lantas berdiri menarik tanganku, membantuku untuk berdiri dan berjalan. Nahas, sebelum aku berdiri, ia sudah jatuh duluan. Tepat di belakangnya berdiri pria hitam itu dengan memegang sebilah kayu. Aku menatap saudaraku, ia pingsan.
“Mau coba-coba kabur?” ia perlahan melangkahkan kakinya mendekat. Aku mencoba berdiri, mencoba mengayunkan tangan kananku ke muka menyebalkan itu. Percuma. Ia hanya menghindar lantas mendorongku jatuh tersungkur.
“Wah-wah, rupanya tanpa perlu dijemput kalian sudah datang sendiri ke medan maut”ia tersenyum, senyum yang amat menyakitkan, “Oke. Kita habisi dulu yang masih sadar, yang pingsan gampang membunuhnya” habis frase itu, ia perlahan menuju batu yang tadi ia duduki, mengambil botol bir bekas lalu memecahkannya di batu. Muncullah pecahan-pecahan runcing pada botol kaca itu, ia perlahan mendekatiku, dengan tetap membawa botol itu, bahkan memamerkannya dengan bangga.
“Kalau untuk membunuhmu sepertinya tak perlu memakai pistol, cukup dengan botol ini. Kamu suka kan?” Entah ia mengidap penyakit apa, tapi ia begitu menikmati proses membunuh. Ah, apakah manusia telah dibutakan oleh harta? Sehingga malah menikmati sesuatu yang buruk dan tak harusnya dilakukan?
Perlahan ia mulai mendekat. Aku tak bergerak, tetap dengan posisi punggug dibawah sambil meng-aduh memegang lengan kiriku. Pikirku percuma, ia akan tetap mengejarku dan praktisnya akan tetap pada satu hal yang sama. Kematianku. Ia semakin ganas mendekat, mengangkat tinggi-tinggi pecahan botol itu, lantas dengan gesit menurunkannya menuju perutku. Aku hanya menutup mata dengan tangan yang semakin mengeras mengenggam lengan. Tiba-tiba cahaya matahari yang menyemburat dimataku menggelap, ada sesuatu yang menghalangi cahaya itu. Bukan kematian, aku tak merasakan sakit tertusuk. Aku mulai membuka mata.
“Samad!!!” aku berterik keras, sangat keras, mungkin itu adalah teriakan terkerasku. Air mataku sudah mengucur deras. Lihatlah siapa wajah di hadapan wajahku? Wajah itu meringis kesakitan, wajah itu menggigit bibir menahan sakit, dan yang amat pedih, matanya menitikkan air mata yang perlahan mengalir di pipinya lantas jatuh mengenai pipiku, pipi yang kembar.
Dia. Dia menjadikan punggungnya sebagai benteng. Sekarang mungkin punggung itu sudah remuk, darah sudah bercucuran di punggung itu. Tiba-tiba punggungku juga sakit, hingga tak sadar air mataku juga mengalir, teramat deras dari saudaraku. Aku akan kehilangan keluarga lagi. Perlahan ia tersenyum padaku, lalu berbisik lirih. Saudaraku Bahrain, jangan menangis. Tak ada keluargaku yang menangis seperti ini, kamu harus kuat, lawan penjahat-penjahat itu. Setelah itu tiba-tiba tubuhnya jatuh, dijatuhkan ke kiri oleh penjahat bengis itu. Ia merasa puas telah memusnahkan keturunan Ardan yang pertama. Sekarang tinggal aku, sebatang kara.
Mataku sudah berisi api kemarahan, telah di pompa oleh saudaraku dengan kata-kata lirih itu. Ia tertawa melihatku berekspresi melawan. Aku melihat peluang, pistolnya tertata rapi di saku jaketnya. Kakiku perlahan ku goyangkan untuk menjatuhkan tubuhnya, ku tendang kakinya arah horizontal tanah. Ia tersungkur, ia meng-aduh, dan saat itulah aku bergegas merebut pistol dari sakunya. Tentu ia tak tinggal diam, ia mengayunkan pecahan botol itu, mengenai lengan kananku. Tak apa. Sudah ku pegang kendali paling besar.
“Oh-oh. Memangnya kamu bisa memakai alat itu? Memegangnya saja tak becus” ia tertawa melihatku gemetaran memegang alat kepolisian itu. Belum pernah seumur hidup aku menyentuhnya, apalagi memegangnya. Tanpa pikir panjang, aku mendesingkan peluru timah sembarang dengan menutup mata, entah ada yang kena atau tidak.
“Ha? Tampaknya pelurumu sudah habis, dan kau belum melukaiku segores pun?” Pria hitam dan berotot itu sangat sombong. Aku menelisik pistolku, masih tersisa satu peluru. Aku mulai khawatir, alih-alih timah panas yang terakhir tak mengenai manusia rakus harta itu. Tiba-tiba aku teringat satu kalimat mujarab yang diajarkan Ayah-Ibu bahkan saudaraku. Aku memperbaiki posisi pistol, dan dengan mantap aku melafadzkan kalimat itu dengan keras. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM!
Dorr!!!
Penjahat itu memegang dada kirinya, wajahnya menahan sakit, tangannya menahan darah yang mengalir seperti air. Percuma. Peluru itu sudah bersarang di organ produsen darahnya. Ia akan mati dengan cepat karena kehabisan darah. Ia terjatuh tumbang, seperti pohon yang ditebang. Sementara aku? Juga terjatuh, aku sangat lelah, lelah fisik dan jiwa. Saudaraku? Saudara kembarku?
Aku mendekati saudaraku dengan ngesot. Kaki ku sudah sangat lelah untuk digerakkan. Ia mengaduh, aku kegirangan, berarti dia masih bernapas.
            “Samad, kau masih hidup?” aku bertanya padanya, sambil mengangkat kepalanya ke pahaku, menjadikannya bantal, aku mulai duduk. Ia perlahan membuka matanya, lalu tersenyum sangat manis. Aku semakin sedih, mengucur sudah air mataku. Betapa sakitnya saudaraku ini.
“Bahrain, kau masih hidup?” bukannya mengkhawatirkan dirinya, ia malah menanyakan keadaanku. Aku mengangguk saja.
“Bahrain, jangan pernah membenci keluarga kita. Karena asal kau tau, keluarga kita adalah sebab-musabab keamanan bangsa” ia berkata penuh cinta, sambil memasukkan tangannya ke saku jaket mengambil sesuatu.
“Baca surat terakhir dari orang tua kita ini. Tulisan di kertas ini akan menjelaskan kedatangan para penjahat-penjahat yang menyerang kau tadi malam. Aku sudah menelpon polisi pagi tadi saat aku melihat kau diikat di pohon itu. Kau sudah aman, polisi sudah menuju ke sini. Jangan benci kami Bahrain Ardan” ia tersenyum simpul saat mengucapkan frase terakhir itu. Bola matanya bahkan tak terlihat saking senangnya ia mengucap kalimat terakhir itu. Mulutnya mengucap sesuatu, seperti membaca mantra. Dan tangannya tiba-tiba melemah, melepas genggamannya pada tanganku, kepalanya juga melemah, oleng ke kanan. Aku... aku ... menyimpulkan satu hal.
“Kak Samad!!!” aku menangis sesenggukan, saudara kembarku telah tiada. Ia berpulang tanpa mengajakku, meninggalkanku sendiri di dunia yang kejam ini, dunia yang gila harta. Kenapa? Kenapa kau harus pergi saudara? Yang lebih kusesalkan lagi aku belum meminta maaf padanya.
“Samad! Ku mohon kembali, maafkan Bahrain, maafkan kembarmu ini, maafkan adikmu ini!” aku semakin menggila,menggoyang-goyangkan tubuh yang tak bernyawa. Aku membanjir, membanjiri diriku dengan air mata. Aku memukul-mukul tanah, membuat debu beterbangan anggun, seolah mengantar nyawa saudaraku menuju singgasana suci. Aku terdiam, mulai menyadari bahwa saudaraku pasti bahagia di sana. Aku mulai tenang. Air mataku mulai menyusut. Dan untuk terakhir kalinya aku memeluk kepala saudara kembarku dengan amat hangat. Ini pelukan terakhir.
Polisi baru datang beberapa menit kemudian. Membawa mayat-mayat penjahat itu. Mayat-mayat? Yah, di sana ada Pramita juga yang tak sengaja terkena tembakan asalku. Aku bersyukur, tak harus berhadapan dengan wanita bermuka dua itu. Aku dengar dari polisi, mereka adalah keluarga teroris yang sudah dicari bertahun-tahun. Kakeknya adalah bos para teroris yang kemudian terbunuh oleh sepasang suami-istri. Para anak buah teroris itu berhenti, beranggapan bos telah kalah, berarti mereka telah kalah juga. Anak dari bos itu tak terima, ia berjanji akan membunuh seluruh kuturunan Ardan, keturunan ayahku. Bahkan dendam itu ia wariskan kepada anaknya, Pramita dan pria hitam itu. Berarti orang tuaku telah membuat perubahan besar terhadap keamanan negeri ini.
Aku berdiri menggendong mayat saudaraku, walau terlampau sakit lenganku, bekas peluru dan botol pecah. Tak apa, akan ku perjuangkan ini sebagai balas jasaku. Aku menggendongnya keluar hutan, aku sesekali terjatuh lantas berdiri kembali. Sangat lama dan sangat sakit. Lukaku mulai terbuka kembali. Tak apa. Aku harus bisa, bagaimana aku tak bisa, sementara dia saudaraku mengorbankan hidupnya untukku?
Aku sampai di pinggir jalan, melihat mobilku yang penyok kiri-kanan, di belakangnya terdapat mobil dengan sirine. Aku tak peduli, aku memasukkan saudaraku di kuris dekat sopir, aku ingin di dekatnya selalu sebelum dikebumikan. Mobilku menuju rumah sakit terdekat, agar mayat saudaraku dapat dibersihkan dari luka-luka yang menyakitkan baru kemudian dijalankan prosesi selanjutnya. Aku bertahan lama di makam saudaraku. Dengan memeluk lutut menahan tangis, aku memandang gundukan tanah merah itu sampai malam menghantam bumi. Jangan benci aku kembarku.
***
Sebulan kemudian aku baru tahu isi dari surat itu. Surat yang menyedihkan, surat itu dipenuhi bercak-bercak darah.
Anak-anakku, jaga diri kalian. Kami titipkan kalian di panti asuhan ini agar kalian aman dari keluarga teroris yang pendendam itu. Samad, jaga adik kembarmu baik-baik,lindungi dia, dan kasihi dia dengan sepenuh hati. Bahrain, turuti perintah kakak kembarmu, jangan membantahnya, dan kasihi dia pula dengan sepenuh hati. Anak kembarku, bocah-bocah yang menggemaskan, kami memberi kalian nama Samad dan Bahrain bukan tanpa alasan. Kami harap kalian seperti langit dan laut,biru yang berpadu dalam indah kebaikan. Dan kami mohon nak, JANGAN BENCI KAMI.
Baru aku sadari makna nama itu. Memang benar, langit dan laut tampak tak terpisah, utuh menyatu. Kalian pernah ke pantai bukan? Maka tengoklah langit dan laut di pantai itu, maka sejauh mata memandang kalian akan menyadari perpaduan yang indah dari kedua ciptaan itu.

Jengkel dengan Jerawat? Hindari 4 Kebiasaan yang Memperburuk Jerawat

sumber:  barusip.blogspot.co.id Pemuda-pemudi tentu sangat mengenal yang namanya jerawat. Betapa tidak, sedikit dari kaum muda yang b...