Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 April 2017

Gejolak

Seorang anak laki-laki berdiri di depan tiolet

“Ibu! Aku kebelet pipis!”

***

Dua pemuda. Sedang bertengkar.

Yang satu berteriak. Yang satu hendak memukul.

Suaranya tercekat. Pukulannya terhenti.

Mereka menangis.

***

Seorang pria berdiri di depan wanitanya.

Ia tersenyum. Di depannya kaku.

“Aku rindu kamu yang bergerak."

***



Sumber: Google Picture

Rabu, 14 September 2016

Puisi Perdana: Daun Padi

Embun berbulir menyentuh, menyesap, meruang waktu.

Aku berjalan di sisinya. Coba mengukir jauh. Jarak antara malah merapat. Aku berdoa.

Aku mohon cahaya. Uapkan selaksa bening. Sayang. Selarik kuminta memantulkan cahaya indah berjuta warna. Sudah. Aku tak bisa. Warna itu melukaiku.

Aku pinta air. Berpadu saja dengannya. Sayang. Aku cemburu. Menoreh luka lagi. Luka yang sudah kuplester.

Aku harap api. Makan saja ia. Hangus lenyapkan. Sayang lagi. Aku butuh ia. Aku hidup dengan ia.

Aku pintal batas tak berbatas. Sempadan selapis tipis. Tidak sayang. Itu meranum buah. Meski sakit yang lebih. Tak apa. Di balik batas jernih. Aku awas. Aku lihat. Aku tahu. Aku rasa. Walau berjarak.

Tak apa. Pemilik alam merestui. Aku. Daun padi pecinta embun.


Jengkel dengan Jerawat? Hindari 4 Kebiasaan yang Memperburuk Jerawat

sumber:  barusip.blogspot.co.id Pemuda-pemudi tentu sangat mengenal yang namanya jerawat. Betapa tidak, sedikit dari kaum muda yang b...